Baik dan Buruknya Menjadi Seorang Workaholic - Star4hire.com Indonesia

Baik dan Buruknya Menjadi Seorang Workaholic

General

Perusahaan mana yang tak mau punya karyawan pekerja keras? Kerja tim jadi lebih lancar, target selalu tercapai, campur tangan atasan pun tidak terlalu diperlukan karena inisiatif para karyawan yang tinggi. Sayangnya, ada orang-orang yang menyalahartikan cara kerja mereka sebagai ciri pekerja keras alias hard worker, padahal sebenarnya mereka sudah tergolong workaholic.

Workaholic diambil dari kata "work" yang berarti kerja dan kata "holic" yang berarti pecandu. Sehingga, workaholic diartikan sebagai pecandu kerja. Sebutan ini biasanya diberikan kepada mereka yang gila kerja. Gila kerja berarti bersedia menghabiskan hampir sebagian besar, bahkan seluruh waktunya untuk bekerja daripada kegiatan lain selayaknya makhluk normal.

Seseorang disebut workaholic ketika ia masih terus bekerja sekalipun waktu kerja telah habis dan karyawan yang lain sudah pulang. Seorang workaholic biasanya juga tidak akan keberatan jika ia diberi beban kerja yang lebih dibanding karyawan lain.

Pasalnya, seorang workhalic memandang pekerjaan bukan sebuah beban, namun cenderung sebagai obsesi dan passion. Seringkali, seorang workaholic juga mempunyai karakter yang perfeksionis dan tangguh.

Seperti dua sisi mata uang, menjadi seorang workaholic tentu juga dapat dinilai dari dua sisi, baik dari sisi kebaikan atau keuntungannya, maupun dari sisi buruk alias kerugiannya.

Berikut adalah beberapa uraian tentang baik buruknya menjadi workaholic. Namun, sebelum melihat sisi buruknya, berikut adalah sisi baik atau keuntungan menjadi workaholic. 

1. Disukai atasan

Sudah bisa dipastikan bahwa seorang workaholic akan menjadi karyawan yang disukai atasan. Pasalnya, pengabdian dan loyalitasnya terhadap pekerjaan dan perusahaan menjadi nilai lebih diantara karyawan lain.

Selain itu, workaholic akan bekerja dengan sangat professional dan tanpa mengeluh. Walaupun seberapa banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang diserahkan padanya, ia akan selalu berusaha maksimal, atau bahkan over maksimal.

2. Mudah naik gaji

Seseorang yang workaholic  biasanya akan bekerja over time atau lebih dari waktu kerja biasa. Ia juga seringkali memilih untuk lembur daripada harus pulang kantor lebih awal.

Workaholic juga seringkali datang ke kantor lebih pagi dari karyawan lain agar bisa mulai bekerja lebih awal. Nah, hal-hal semacam ini tentu akan membuat seorang workaholic mendapatkan intensif dan bonus-bonus dari perusahaan. Tak jarang, ia pun akan mendapat kenaikan gaji yang signifikan akibat prestasi yang dicapainya.

3. Mudah naik pangkat

Jika seseorang menjadi workaholic sudah disukai atasan, tentu banyak hal positif yang akan ia dapat. Selain kenaikan gaji, bukan tidak mungkin seorang workaholic akan mudah naik pangkat.

Pasalnya, seseorang dengan prestasi kerja, loyalitas, dan semangat bekerja yang tinggi tentulah akan menjadi kandidat tepat sebagai pemimpin. Paling tidak, seorang workaholic akan lebih mudah dan semakin cepat dalam meniti tangga karirnya menuju puncak kesuksesan.

Itu adalah keuntungan menjadi seorang Workaholic, Keberadaan workaholic memang kerap tampak sebagai keuntungan bagi perusahaan. Padahal, ada dampak buruk yang mengintai seorang workaholic, yang tentunya juga dapat merugikan perusahaan.

Berikut ini empat dampak buruk sekaligus alasan untuk tidak menjadi seorang workaholic:

1. Kurang bersosialisasi 

Kehidupan yang tidak seimbang dan lebih banyak dihabiskan untuk urusan pekerjaan, membuat seorang karyawan kurang bersosialisasi. Padahal, biar bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial. Nah, bagaimana si workaholic bisa menjaga hubungan dengan teman-temannya kalau pekerjaan selalu jadi alasan untuk melewatkan kesempatan bertemu serta menjalin dan menjaga relasi?

2. 'Jauh' dari keluarga 

Meskipun tak harus merantau, tapi prioritas workaholic terhadap pekerjaan membuat ia kerap mengorbankan keluarganya sendiri. Lokasi kantornya mungkin cukup dekat, sehingga memungkinkan dia untuk tinggal di rumah. Namun, karena hampir setiap hari ia memprioritaskan pekerjaan dan tak segan untuk sering lembur, orang-orang terdekatnya pun kesulitan menghabiskan waktu dengannya. Sikap workaholic yang seperti ini juga tanpa ia sadari membuat keluarga dan kerabat dekatnya perlahan menjaga jarak darinya.

3. Tak punya hari libur 

Sudah beruntung diberikan hak cuti dan waktu istirahat, si workaholic justru sering menyia-nyiakannya. Alih-alih memanfaatkan hak cutinya untuk refreshing, ia malah menghabiskan akhir pekan dan hari liburnya dengan tenggelam di tengah pekerjaan. Alhasil, dia tak pernah sempat merasakan nikmatnya berlibur atau sekadar bersantai di rumah dengan keluarga.

4. Kesehatan terganggu 

Sekeras apapun seseorang memaksa tubuhnya untuk berfungsi maksimal, tetap saja kerja tubuh manusia ada batasnya. Seorang workaholic biasanya tak pernah kehabisan semangat untuk bekerja. Namun, karena itulah fokusnya teralihkan, sehingga dia tidak sadar ketika tubuhnya sudah terlalu lelah. Nah, kalau sudah jatuh sakit, pekerjaan pun jadi terbengkalai. Kalau hal ini sampai terjadi, bukan hanya si workaholic saja yang rugi, tapi juga perusahaan.

Sejumlah perusahaan masih menuntut karyawannya untuk bekerja melampaui jam kerja normal dan menganggap hal itu lumrah. Karyawan dihadapkan pada beban kerja sehari-hari yang berlebihan sehingga mereka mau tak mau harus bekerja hingga larut malam. Jika Anda bekerja di perusahaan seperti ini, maka kemungkinan besar Anda tak punya pilihan selain menjadi workaholic untuk mengikuti budaya tersebut. Tentunya keputusan ada di tangan Anda. Jika merasa tak sesuai dengan budaya perusahaan, Anda bisa mencari tempat kerja lain yang lebih manusiawi.

Lain halnya jika perusahaan tempat Anda bekerja sudah mengedepankan work-life balance, memberikan beban kerja sewajarnya kepada karyawan, dan menerapkan kebijakan lembur dengan kompensasi yang sebanding. Jika Anda merasa seperti tak punya kehidupan di luar pekerjaan, maka yang perlu menjadi perhatian adalah Anda sendiri. Kemungkinan besar Anda-lah yang 'kecanduan' bekerja.

Sekarang Anda lah yang menentukan, ingin menjadi seorang Workaholic atau pekerja normal? Pekerja keras yang sesungguhnya tak hanya berkomitmen dan berdedikasi terhadap pekerjaan, tapi juga tahu caranya menentukan prioritas serta pandai mengelola waktu dengan baik.

STAR4HIRE membantumu menuju pekerjaan impian.

Gabung Sekarang